Ada uang, ada barang.
Simmel lahir pada tahun 1858 di Berlin, Jerman. Simmel berasal dari keluarga dengan silsilah Yahudi yang cukup panjang. Namun baik Simmel maupun kedua orang tuanya merupakan pemeluk agama Kristen[1]. Simmel menempuh pendidikan tinggi, dan Simmel simmel lahir pada tahun 1858 di Berlin, Jerman. Simmel berasal dari keluarga dengan silsilah Yahudi yang cukup panjang. Namun baik Simmel maupun kedua orang tuanya merupakan pemeluk agama Kristen[1]. Simmel menempuh pendidikan tinggi, dan menjadi pengajar di Fakultas Filsafat Universitas Humboldt selama kurang lebih 40 tahun[2].
Terlepas dari karir akademisnya yang stagnan akibat sentimen anti-yahudi di Jerman pada masa tersebut, Simmel merupakan dosen yang sangat populer di kalangan komunitas terpelajar Berlin, sekaligus figur sentral dalam perkembangan sosiologi di Jerman[3].
Pemikiran Georg Simmel (1858–1918)Kontribusi Simmel terhadap sosiologi dapat dilihat dari karya-karyanya seperti The Isolated Individual and the Dyad, Fashion, The Conflict in Modern Culture, dan The Philosophy of Money[4].
Dalam The Isolated Individual and the Dyad, Simmel membahas tentang ikatan antara dua orang yang disebut sebagai dyad, dan ikatan antara tiga orang yang disebut sebagai triad. Menurut Simmel, dyad memiliki dua karakteristik utama: pola interaksi yang rutin dan keintiman antara kedua anggotanya. Hadirnya orang ketiga dalam sebuah dyad akan mengubah dyad menjadi triad.
Simmel menyatakan bahwa orang ketiga dalam triad dapat berperan sebagai mediator, orang yang mengambil keuntungan dari perselisihan dua anggota lainnya, atau orang yang sengaja menciptakan konflik untuk mendominasi kelompok tersebut[5].
Tiga karya Simmel yang lain membahas topik yang cukup beragam, mulai dari fashion, budaya, hingga uang.
Fashion (1904)Lewat Fashion, Simmel membahas tentang kontradiksi yang hadir dalam dunia mode. Di satu sisi, mode memberi ruang bagi mereka yang ingin terlihat sebagai bagian dari kelompok tertentu. Dengan mengadopsi gaya berpakaian kelas borjuis misalnya, seorang individu dapat tampil sebagai bagian dari kelas sosial tersebut. Namun di sisi yang lain, mode juga memberi ruang bagi mereka yang ingin telihat berbeda dan unik[6] — seperti Lady Gaga dan kostum-kostumnya yang kerap dianggap tidak lazim.
Lebih lanjut, Simmel menjelaskan bahwa perubahan mode di dalam masyarakat melibatkan serangkaian proses. Pada awalnya, masyarakat memiliki kesepakatan terkait apa-apa saja yang dianggap modis atau fashionable. Selanjutnya, muncul individu-individu yang menyimpang dari kesepakatan tersebut, dan menciptakan berbagai variasi mode yang baru. Mode-mode baru inilah yang lama-kelamaan dianggap fashionable, dan diikuti oleh masyarakat luas[7].
Bagi Simmel, mode bukanlah sesuatu yang abadi. Kematian sebuah mode akan melahirkan mode baru, yang kelak (juga) akan mati dan digantikan oleh mode yang lebih baru.
The Conflict in Modern Culture (1921)Dalam The Conflict in Modern Culture, Simmel menjelaskan tentang perbedaan antara budaya subjektif dan budaya objektif. Menurut Simmel, budaya objektif mengacu pada segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia, seperti seni, ilmu pengetahuan, filsafat, dan lain-lain. Budaya subjektif, di sisi lain, mengacu pada kapasitas sang aktor untuk memproduksi, menyerap, dan mengontrol elemen-elemen budaya objektif[8].
Menurut Simmel, idealnya hubungan antara budaya subjektif dan objektif terjadi secara dua arah: budaya subjektif membentuk budaya objektif, dan budaya objektif turut memengaruhi budaya subjektif. Namun pada praktiknya, budaya objektif justru berevolusi menjadi sesuatu yang bernyawa — sesuatu yang hidup. Dampaknya, manusia justru diatur oleh produk-produk budaya yang mereka ciptakan sendiri[9], seperti sains dan teknologi.
The Philosophy of Money (1900)Dalam The Philosophy of Money, Simmel membahas tentang konsep nilai, uang, dan proses transaksi. Menurut Simmel, nilai sebuah objek ditentukan dari jarak antara individu dan objek tersebut[10]. Konsep jarak dalam pemikiran Simmel mengacu pada tingkat kesulitan untuk mendapatkan sebuah objek, yang dapat diukur melalui empat variabel utama yaitu waktu, kelangkaan, usaha yang harus dikeluarkan, serta pengorbanan yang harus dilakukan[11].
Lebih lanjut, Simmel menyatakan bahwa sebuah objek akan dianggap bernilai jika objek tersebut berada di jarak yang tepat; tidak terlalu dekat, dan tidak terlalu jauh dari individu yang menilainya [12].
Ketika membahas tentang uang, Simmel menyatakan bahwa uang, layaknya mode, merupakan sesuatu yang bersifat kontradiktif. Di satu sisi, uang menyimbolkan jarak antara subjek (individu) dan objek (benda); namun di sisi lain, uang juga berperan sebagai alat untuk melampaui jarak tersebut[13].
Harga dari sebuah objek merupakan manifestasi dari jarak antara individu dan objek tersebut; dan untuk melampaui jarak tersebut, seorang individu harus memiliki uang. Menurut Simmel, kesulitan yang dialami oleh individu untuk mendapatkan uang merupakan pengalaman yang membuat sebuah objek memiliki nilai di mata individu[14].
Simmel juga menjelaskan tentang dampak negatif dari hadirnya uang. Secara garis besar, uang mengubah hubungan antar-manusia yang tadinya bersifat personal, menjadi impersonal[15]. Kehadiran uang membuat manusia berubah menjadi makhluk yang penuh perhitungan. Segala sesuatu dapat diukur, dan dibeli menggunakan uang[16] — termasuk manusia.
Sebagai contoh, beberapa sistem budaya memungkinkan pelaku pembunuhan untuk bebas setelah membayar sejumlah uang. Prostitusi — dalam bentuk yang spesifik — juga dapat menjadi contoh dari praktik “pembelian” manusia ini [17]. Menurut Simmel, paparan di atas merupakan bukti dari terkikisnya budaya subjektif oleh budaya objektif — bukti bahwa uang mulai mengatur jalannya hidup manusia — bahwa objek mulai mengatur penciptanya[18].
Karya-karya Simmel memiliki dampak yang signifikan bagi perkembangan sosiologi, khususnya sosiologi di Amerika Serikat. Dibandingkan pemikiran Durkheim, Marx, dan Weber, pemikiran Simmel jauh lebih dikenal oleh sosiolog Amerika di awal abad ke-20. Topik bahasan yang unik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, penjelasan di level mikro, serta konsep dualitas yang hadir dalam sebagian besar karyanya membuat Simmel kerap disebut sebagai pemikir post-modern di era modern.
Catatan kaki[1] George Ritzer, The Wiley-Blackwell Companion to Sociology, (Oxford: Wiley-Blackwell, 2003), hlm. 240.
[2] Loc.cit.[3] George Ritzer, Sociological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2010), hlm. 160–161.
[4] Ibid., hlm. 158–187.
[5] Kurt Wolf, The Sociology of Georg Simmel, (Illinois: The Free Press, 1950), hlm. 118–162.
[6] George Ritzer, Sociological Theory, Op.cit., hlm. 162.
[7] Loc.cit.[8] Ibid., hlm. 163.
[9] Loc.cit.[10] Ibid., hlm. 175.
[11] Georg Simmel,The Philosophy of Money, (Routledge: London, 2010), hlm. 72.
[12] Ibid., hlm. 69.
[13] Ibid., hlm. 72–78.
[14] George Ritzer, Sociological Theory, Op.cit., hlm. 175.
[15] Ibid., hlm. 178.
[16] Ibid., hlm. 179.
[17] Ibid., hlm. 178.
[18] Ibid., hlm. 179.
[2] Loc.cit.[3] George Ritzer, Sociological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2010), hlm. 160–161.
[4] Ibid., hlm. 158–187.
[5] Kurt Wolf, The Sociology of Georg Simmel, (Illinois: The Free Press, 1950), hlm. 118–162.
[6] George Ritzer, Sociological Theory, Op.cit., hlm. 162.
[7] Loc.cit.[8] Ibid., hlm. 163.
[9] Loc.cit.[10] Ibid., hlm. 175.
[11] Georg Simmel,The Philosophy of Money, (Routledge: London, 2010), hlm. 72.
[12] Ibid., hlm. 69.
[13] Ibid., hlm. 72–78.
[14] George Ritzer, Sociological Theory, Op.cit., hlm. 175.
[15] Ibid., hlm. 178.
[16] Ibid., hlm. 179.
[17] Ibid., hlm. 178.
[18] Ibid., hlm. 179.
Artikel ini dapat ditulis dan diterbitkan berkat bantuan dari kinibisa.com! Platform digital dengan misi mewujudkan generasi kompeten untuk Indonesia, di era digital. Akses portal kinibisa.com untuk mengetahui berbagai informasi menarik terkait insitusi pendidikan, beasiswa, profesi, dan masih banyak lagi!

